Fakultas Kedokteran
Melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi di bidang kedokteran dengan pendeketan Academic Health System
Longitudinal Integrated Clerkship (LIC)
Model pembelajaran klinis yang mengutamakan kontinuitas hubungan mahasiswa dengan pasien, klinisi, dan lingkungan belajar untuk membentuk dokter yang kompeten, berkarakter, dan siap melayani masyarakat
Definisi Longitudinal Integrated Clerkship (LIC)
Longitudinal Integrated Clerkship (LIC) adalah model pendidikan klinis yang berbeda dari sistem blok tradisional. Dalam LIC, mahasiswa mengalami pembelajaran klinis yang didasarkan pada tiga elemen kontinuitas utama:
- Kontinuitas Pasien: Mahasiswa terlibat dalam perawatan komprehensif pasien dari waktu ke waktu, mengikuti perjalanan kesehatan mereka melalui berbagai layanan kesehatan
- Kontinuitas Supervisi: Relasi jangka panjang dengan klinisi pembimbing yang memberikan bimbingan dan mentoring berkelanjutan
- Kontinuitas Belajar: Pembelajaran terintegrasi dari berbagai disiplin ilmu klinis secara simultan melalui pengalaman pasien nyata
Berbeda dengan block rotation tradisional yang sering berubah-ubah, LIC memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengembangkan professional identity formation dan kedewasaan klinis melalui pengalaman jangka panjang yang bermakna.
Implementasi LIC di Program Studi Profesi Dokter (PSPD)
FK UNPAD sedang melaksanakan sekaligus mengembangkan implementasi LIC sebagai inovasi kurikulum klinis modern. Model pembelajaran ini dirancang untuk:
- Pengalaman Kerja Nyata: Mahasiswa mengalami setting klinis yang sesungguhnya dengan tanggung jawab yang realistis
- Hubungan Berkelanjutan dengan Pasien: Mengikuti perjalanan kesehatan pasien secara longitudinal untuk pemahaman holistik
- Mentoring Personal: Bimbingan intensif dari klinisi pembimbing yang konsisten
- Pembelajaran Berbasis Kompetensi: Mencapai kompetensi inti dari berbagai disiplin ilmu klinis secara terintegrasi
- Self-Regulated Learning: Pengembangan kemampuan mahasiswa untuk mandiri mengidentifikasi kebutuhan belajar dan mengatasinya
- Psikoformasi Identitas Profesional: Pembentukan identitas dokter profesional melalui pengalaman klinis yang bermakna dan berkelanjutan
Durasi Program: 3.5 tahun (7 semester) dengan penempatan klinis longitudinal di fasilitas kesehatan jejaring AHS UNPAD
Keunggulan LIC untuk Mahasiswa dan Pasien
Penelitian internasional menunjukkan bahwa LIC memberikan berbagai manfaat yang signifikan:
- Untuk Mahasiswa: Pengalaman klinis yang lebih bermakna, mentoring yang lebih baik, pengembangan clinical reasoning yang lebih mendalam, dan formasi identitas profesional yang kuat
- Untuk Pasien: Kontinuitas perawatan yang lebih baik, hubungan dengan dokter yang lebih personal, dan pemahaman holistik tentang kondisi kesehatan mereka
- Untuk Komunitas: Dokter yang lebih sensitif terhadap kebutuhan kesehatan masyarakat dan sistem kesehatan yang lebih terintegrasi
Jejaring Academic Health System (AHS) untuk Pembelajaran LIC
Implementasi LIC di FK UNPAD memanfaatkan jejaring AHS di berbagai wilayah (khususnya Jawa Barat) yang komprehensif, meliputi:
- Rumah Sakit Universitas Padjadjaran (RS UNPAD) dan jejaring AHS
- Klinik Pratama jejaring AHS dan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas)
- Klinik-klinik khusus dan fasilitas layanan kesehatan mitra
Dengan memanfaatkan jejaring AHS yang luas, mahasiswa mendapatkan exposure klinis yang komprehensif di berbagai tingkat layanan kesehatan, dari pencegahan hingga rehabilitasi, serta kesempatan untuk belajar dari beragam populasi pasien dan konteks sosial kesehatan masyarakat.
Translasional Research
Penelitian translasional adalah pendekatan yang bertujuan untuk mengubah penemuan ilmiah dasar (seperti di laboratorium) dan klinis menjadi aplikasi praktis dan program yang secara langsung bermanfaat bagi masyarakat, seperti cara pencegahan, pengobatan atau diagnosis baru.
Community Engagement
Keterlibatan komunitas adalah proses kolaboratif dalam membangun hubungan dengan masyarakat dan pemangku kepentingan setempat untuk mengatasi masalah kesehatan, meningkatkan kesejahteraan, dan mencapai kesetaraan kesehatan. Proses ini memastikan bahwa masyarakat menjadi mitra aktif dalam membentuk kebijakan dan program kesehatan, bukan hanya sebagai penerima manfaat secara pasif.
